Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) lahir di Balkh (Afganistan) tanggal 6 Rabiul Awwal 604 Hijriyah atau 30 September 1207 dan wafat 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun di kota Qaunie (Turki). Beberapa karya legendaris Rumi diantaranya Matsnawi Ma’nawi, Fiihi Maa Fiihi, Maktubat Maulana dan Ruba’iyat.Karya-karyanya:
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
"Kepada Nya, kita semua akan kembali"
Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.
(Al Mastnawi, diterbitkan oleh Mizan dengan judul "Terang Benderang")
Oh, sekarang dari tengah-tengah kami, kau pergi
Walaupun ada duka nestapa kau tolak, kau pergi
Sekali waktu lingkaran kawan kau bahagiakan
Kini dengan debu semut dan ular, kau pergi
Betapa banyak ilmu akhirnya kau tinggalkan
Betapa seperti pikiran, dalam rahasi akau pergi
Betapa ada tangan yang sesekali menunjuk jalan
Betapa ada kaki yang dituntun taman, kau pergi
Lembut dan menyentuh, kau pukau kau tawan
Lalu debu dunia nestapa dukamu, kau pergi
Kau sesali cemburu, berjuang menghentikan
Ziarah kematian, hidupmu tertahan, kau pergi
Hendak kemana, debu kabutmu tak tertemukan
Jalan berdarah ini, mengilang kabut, kau pergi
Diamlah O hati, belenggu lidah jiwa terkekangkan
Betapa nyala itu memutar dan menikung, kau pergi
(Diwani Shams Tabriz)
Aku pergi mengembara tanpa diriku
Kutemukan kegembiraan tanpa diriku
Rembulan sembunyi, tak dapat bertemu
Bersentuhan pipi kami, tanpa diriku
Bagi kekasih yang membebaskan jiwaku
Aku terlahir kembali tanpa diriku
Tanpa jiwa kita yang mabuk itu
Selalu berbahagia tanpa diriku
Hapuskan aku dari kenangan dulu
Mengingatku tanpa diriku
Tanpa kegembiraan yang kupinta tanpa diriku
Aku selalu akukah tanpa diriku?
Kurung saja aku, tutup semua pintu
Lalu aku masuki tanpa diriku
Takluk berlutut, hatinya terbelenggu
Juga diriku terikat rantai tanpa diriku
Dalam gelas piala Shams, mabuklah aku
Gelas yang tak pernah diam tanpa diriku.
(Diwani Shams Tabriz, Syair ke-32)
Takut tak terpisahkan, bijaklah, bijaklah
Bagimu pesta besar, jadi hadiah, jadi hadiah
Jiwa yang kepayang, jangan, jangan pandang rendah
Engkau juga reguk anggur ini, menemu yang sembunyi
Rupa Wajah Tuhan adalah ketakjuban yang dirindukan
Engkau semua mabuk, air di mata bersimbah
Seperti pijar matahari, menyalakan langit malam
Di sini, tempat semua kebajikan, keharuan
Kasih, kejelitaan, keanggunan, kegairahan,
Tak ada takut, tak ada takut di ranah Kebijakan
Di kedai segala dosa ini, kemaafan Tuhan tertebar
Bagi setiap derita, Kasihnya adalah penyembuhan
Hakim di kedai ini memaafkan semua pelanggaran.
Pujilah kebebasan
Pujilah Wahyu Tuhan
Pujilah penobatan jiwa
Pujilah sorak suka ria
Pujilah kebanggaan negeri
Lambang Kedalaman cinta ini
Yang memberi insprirasi puisi
Ke rumah ini, rumah yang memabukkan.
(Diwani Shams Tabriz, Syair ke 41)
Menjemput Manis Anggur* Ikutilah, ikutilah, padang ini setaman-bunga
Ikutilah, ikutilah, ini waktu bagi sang kekasih,
Ikutilah, sekali-seluruhnya, setiap jiwa, seluruh dunia
Mandikan dirimu di pancuran emas panah matahari.
Hinakan mereka yang menyempal tanpa kerabat
Tangisilah dia yang menyendiri, tinggalkan kekasih sendiri.
Setiap orang mesti bangkit, menebarkan kabar,
Yang terbelenggu memutus rantai, tinggalkan kurungan.
Tabuhlah tambur tanpa ragu, dan tahanlah bicara,
Fikir-hati mengalir jauh, sebelum jiwa membumbung punjung.
Hari yang luar biasa, luar biasa, seperti Hari Pengadilan,
Buku hidup tak lagi berdaya, hilang tenaga.
Diamlah, diamlah, bertudunglah, bertudunglah,
Jemput manis anggur, campakkan masam kecut.
(Diwani Shams Tabriz, Syair ke 50)
Mengapa mengira yang remeh ini adalah jiwa
dan sebongkah bijih emas harta yang diburu?
Kau mencari emas, menggali dalam, mengapa?
Merenungkan bumi menjelma jadi langit?
Mengapa menimbangkan godaan yang menakutkan
sebagai keindahah negeri?
Mengapa seperti cacing menggeliat syahwat bumi
dan menganggap kekasih lebih hina dari debu?
Mengapa mual dengan cinta dan kau usir dia
Mengira dalam cinta, padahal tenggelam dalam nafsu?
Mengapa membiarkan asap ketakpedulian memenuh mata dengan tangis?
Mengapa menganggap kesalihan adalah wujud ketakutan yang bodoh?
Takluk pada nafsu pertanda tiba kutuk itu
Lalu mengapa minta isyarat ini dihapuskan?
Semua tanyaku, mengapa, kutanya sendiri
Seperti mereka, kau kira aku bertanya pada-Nya?
Shams Tabrizi, unjukkan dirimu, sinarmu
Mereka yang memuja mata, tak akan punya penglihatan!
(Diwani Shams Tabriz, Syair ke 151)
Pada dunia ini engkau telah menebar harum aroma
Wewangian yang engkau sembunyikan, masih ada.
Jutaan kegembiraan yang diingkari wangi aroma
Yang telah kau tebar di muka bumi dan angkasa.
Dari sinarnya sendiri dan panas yang berpancar
Engkau membakar fikiran dan jiwa pun berkobar.
Dari hidup yang tersembahkan, tersaji keindahan
Lorong tambang dan samudera kehilangan dingin.
Berjuta jiwa dengan wajah memancar terang
Yang membatas mengurung kegelapan ruang.
Engkau mengambil kebodohan yang jelas nyata
Dan memberi mereka keraguan: seperangkat jiwa.
Mereka memberi sendiri dengan tangan sendiri
Dengan rasamanis: darah yang menggenangi.
Hati yang penuh menemu hati yang terpatahkan
Yang takberhati menangis duh terbangkitkan.
Shams Tabriz dari kemurahhatian engkau
Pada kekasih telah kuserahkan kegilaanku.
(Diwani Shams Tabriz, Syair ke 165)
No comments:
Post a Comment