Tentang Lerai..
On .. 2008
Kali ini Aku tidak akan berkata-kata lagi tentang mendung dan hujan, walau tak dipungkiri itu selayaknya langit yang menaungi beberapa momen terdalam di beberapa ketidakinginanku dan tak kupungkiri selayaknya nasib yang bergerak mengikuti sisi kemanusiaanku, tak kumengerti keadaannya dan tak kufahami keberadaannya. Aku juga tak akan membicarakan lagi tentang panas di sekeliling mataku, merambat ke ke dahi dan meledak di ulu hati.
Kehidupan.. selayaknya adalah makna yang dipenuhi sarkasme, mengharukan dengan kisah melankolis, mendebarkan dengan kenyataan pragmatis atau membahagiakan dengan kisah yang harmonis. waktu menuntun kita (seperti runut) melewati satu per satu masa itu dengan sistematis. Anehnya secara teoritis kita dapat menentukan berapa lama kita bertahan dalam masing-masing fase tersebut, namun beberapa hal dalam modifikasi keterlenaan meyakini bahwa kita sering melepaskan kesadaran kita dalam kurun tersebut sehingga kadang senja-lah yang mensadarkan kita bahwa senyatanya kita sudah berdiam terlalu lama di setiap fase tersebut. Itulah kita, mungkin bukan hakikat manusiawi dan kemanusiaan tapi ketidaksadaran menuntun kita melewati kesadaran dengan seolah sepenuh hati..
itulah sedikit ma'na yang kuketahui..
Untuk engkau yang berada di sebuah sudut kehidupan yang lain, aku pernah mengajakmu melukis kisah kehidupan dengan kearifan kemanusiaan dalam kesahajaan cemas. Namun aku juga tahu engkau dan kita yang tengah membaca ini sering mual dan merinding dengan kebersahajaan tawa..
Kukutipkan saja untuk kita patahan Akmal Nasery Basral "Kau manusia biasa, dimana tangis sama terhormatnya dengan tawa, dimana cemas sama berharganya dengan bahagia. Hanya jiwa-jiwa rapuh yang membiarkan tangis dan cemas tersembunyi dibalik wajah bahagia".
On .. 2008
Kali ini Aku tidak akan berkata-kata lagi tentang mendung dan hujan, walau tak dipungkiri itu selayaknya langit yang menaungi beberapa momen terdalam di beberapa ketidakinginanku dan tak kupungkiri selayaknya nasib yang bergerak mengikuti sisi kemanusiaanku, tak kumengerti keadaannya dan tak kufahami keberadaannya. Aku juga tak akan membicarakan lagi tentang panas di sekeliling mataku, merambat ke ke dahi dan meledak di ulu hati.
Kehidupan.. selayaknya adalah makna yang dipenuhi sarkasme, mengharukan dengan kisah melankolis, mendebarkan dengan kenyataan pragmatis atau membahagiakan dengan kisah yang harmonis. waktu menuntun kita (seperti runut) melewati satu per satu masa itu dengan sistematis. Anehnya secara teoritis kita dapat menentukan berapa lama kita bertahan dalam masing-masing fase tersebut, namun beberapa hal dalam modifikasi keterlenaan meyakini bahwa kita sering melepaskan kesadaran kita dalam kurun tersebut sehingga kadang senja-lah yang mensadarkan kita bahwa senyatanya kita sudah berdiam terlalu lama di setiap fase tersebut. Itulah kita, mungkin bukan hakikat manusiawi dan kemanusiaan tapi ketidaksadaran menuntun kita melewati kesadaran dengan seolah sepenuh hati..
itulah sedikit ma'na yang kuketahui..
Untuk engkau yang berada di sebuah sudut kehidupan yang lain, aku pernah mengajakmu melukis kisah kehidupan dengan kearifan kemanusiaan dalam kesahajaan cemas. Namun aku juga tahu engkau dan kita yang tengah membaca ini sering mual dan merinding dengan kebersahajaan tawa..
Kukutipkan saja untuk kita patahan Akmal Nasery Basral "Kau manusia biasa, dimana tangis sama terhormatnya dengan tawa, dimana cemas sama berharganya dengan bahagia. Hanya jiwa-jiwa rapuh yang membiarkan tangis dan cemas tersembunyi dibalik wajah bahagia".
No comments:
Post a Comment