Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, dikenal sebagai Sastrawan Puisi Lirik Indonesia dan berupaya menghidupkan kembali sajak empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940. Beberapa karyanya antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974). kumpulan sajak Perahu Kertas dan Sihir Hujan. Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” (Jakob Sumardjo, Pikiran Rakyat). Selain itu dia juga menerjemahkan karya asing Hemmingway The Old Man and the Sea, Daisy Manis (Henry James), 1970-an. Juga, naskah drama seperti Syakuntala (Kalidasa), Murder in Cathedral (TS Elliot) dan Morning Become Electra (trilogi Eugene O'neil).
DALAM DOAKU
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit
yang Semalaman tak memejamkan mata, yang meluas
Bening siap menerima cahaya pertama, yang Melengkung hening karena akan menerima
Suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
Dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
Yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
Yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis,
Yang hinggap di ranting, dan menggugurkan Bulu-bulu bunga jambu
yang tiba-tiba gelisah Dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin
Yang turun sangat perlahan dari nun disana,
Bersijingkat di jalan kecil itu menyusup
Dicelah-celah jendela dan pintu,
Dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah
Selesai mendoakan keselamatanmu.
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
TENTANG MATAHARI
Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
KAMI BERTIGA
dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata --
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata
MATA PISAU
mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
THE DAY WILL COME
The day will come
When my body no longer exists
But in the lines of this poem
I will never let you be alone
The day will come
When my voice is no longer heard
But within the words of this poem
I will continue to watch over you
The day will come
When my dreams are no longer known
But in the spaces found in the letters of this poem
I will never tired of looking for you
NOCTURNE
I let the starlight possess you
I let the pale and ever-restless wind,
That suddenly changes into a sign, take you from me
I know not when I might have you
No comments:
Post a Comment